Thursday, October 28, 2010

to quit does not make you loser

As a grown up, sometimes we feel that we know what we are doing and why. We even brag about the risks that we anticipate and the percentage of success. Some of us even claim that they choose certain people to make it happen. Or they claim that they mold people to achieve it.

Sometimes, things got out of our hands. Really really out of hands. There are things we can do: admit defeat and get up again, or blame it on someone, or something, or the timing.

When you play the role of a leader, things could be more complicated. When you are squeezed in between like a sandwich, it could be worse, or the worst. Especially when things get tougher, and tougher, and you yourself could no longer stand just to watch yourself fall. When you were thinking of the domino effects after your fall, perhaps you try to gain some strength. But only for some time.

Then the time comes when you have a strong feeling that you have to choose the fight and the field, and you just have to tell them in the eye, that you are not one of the childrens of gods/godess. In your head, you just have to shout out "Stop trying to make miracles".  So you decided to walk out the fighting field, on fire, and realize that you could never come out clean. So you quit, so what?

Just never wear guilt to oppose Napoleon (he died anyway) upon his statement" Winners never quit, quitters never win". In life, there are a lot of more important hings than winning. On the other hand, quit for a reason is something a winner should also learn.

These are good  reasons to quit on something, though. 

1. Quit arguing with people about the same old foolishness

2. Quit trying to pull people on your journey who don't want to travel with you.

3. Quit complaining about things you can't and won't change.

4. Quit blaming each other for things that in the big picture aren't going to matter three weeks from now
 
5. Quit trying to change people

6. Quit the job you hate! Start pursuing your passion.

7. Quit volunteering for things that you aren't getting any personal fulfillment from anymore

8. Quit making excuses about why you are where you are or why you can't do what you want to do

9. Quit waiting on others to give you the answers, and start finding the answers for yourself

Saturday, October 16, 2010

Canang Sari

Canang sari inggih punika sarin kasucian
kayun bhakti ring Hyang Widhi tunggal. Napkala ngaksara 
kahiwangan-kahiwangan”.

Canang sari yaitu inti dari pikiran dan niat yang suci sebagai tanda bhakti/hormat kepada Hyang Widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian (lontar Mpu Lutuk Alit).

Canang sari adalah suatu Upakāra /banten yang selalu menyertai atau melengkapi setiap sesajen/persembahan, segala Upakāra yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak di lengkapi dengan canang sari.

Apakah sebenarnya makna yang terkandung dalam sebuah canang sari?

1. Ceper
Ceper adalah  alas dari sebuah canang, yang memiliki bentuk segi empat sebagai lambang badan (angga-sarira). Keempat sisinya sebagai lambang dari Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, Panca Karmendriya yang membentuk terjadinya badan ini.

2. Beras
Beras atau wija sebagai lambang Sang Hyang Ātma , yang menjadikan badan ini bisa hidup.
Beras/wija sebagai lambang benih, dalam setiap insan/kehidupan diawali oleh benih yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berwujud Ātma. Ceper sebagai lambang angga-sarira/badan tiadalah gunanya tanpa kehadiran Sang Hyang Ātma .

3. Porosan
Sebuah Porosan terbuat dari daun sirih, kapur/pamor, dan jambe atau gambir sebagai lambang/nyasa Tri-Premana dan Tri Kaya.

Tri-Premana adalah tiga cara untuk mengetahui hakekat kebenaran sesuatu, baik nyata maupun astrak meliputi Pratyaksa (melihat dan memegang), Anumana (membuktikan), dan Agama (pengetahuan yang diberikan guru/sarjana).

Tri Kaya yaitu Bayu, Sabda, dan Idep (pikiran, perkataan, dan perbuatan).
Daun sirih sebagai lambang warna hitam sebagai nyasa Bhatara Visnu, dalam bentuk tri-premana sebagai lambang dari Sabda (perkataan), Jambe/Gambir sebagai lambang Bhatara Brahma, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang Bayu (perbuatan), Kapur/Pamor sebagai lambang Bhatara Iswara, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang Idep (pikiran). 

 

4.Tebu dan pisang.
Di atas sebuah ceper telah diisi dengan beras, porosan, dan juga diisi dengan seiris tebu dan seiris pisang. Tebu atapun pisang memiliki makna sebagai lambang amrtha. Setelah kita memiliki badan dan jiwa yang menghidupi badan kita, dan tri Pramana yang membuat kita dapat memiliki aktivitas, dengan memiliki suatu aktivitaslah kita dapat mewujudkan Amrtha untuk menghidupi badan dan jiwa ini. Tebu dan pisang adalah sebagai lambang/ nyasa Amrtha yang diciptakan oleh kekuatan Tri Pramana dan dalam wujud Tri Kaya.

5.Sampian Uras.
Sampian uras dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai, yang melambangkan roda kehidupan dengan Astaa iswaryanya/delapan karakteristik yang menyertai setiap kehidupan umat manusia, yaitu :
-  Dahram (Kebijaksanaan)
-  Sathyam (Kebenaran dan kesetiaan)
-  Pasupati (ketajaman, intelektualitas)
-  kama (Kesenangan)
-  Eswarya (kepemimpinan)
-  Krodha (kemarahan)
-  Mrtyu (kedengkian, iri hati, dendam)
-  Kala ( kekuatan)
Itulah delapan karakteristik yang dimiliki oleh setiap umat manusia, sebagai pendorong melaksanakan aktivitas, dalam menjalani roda kehidupannya.

6. Bunga.
Bunga adalah sebagai lambang/nyasa, kedamaian, ketulusan hati.
Di dalam kita menjalani roda kehidupan ini hendaknya selalu dilandasi dengan ketulusan hati dan selalu dapat mewujudkan kedamaian bagi setiap insan.

7. Kembang Rampai.
Kembang rampai akan ditaruh di atas susunan/rangkaian bunga-bunga pada suatu canang, kembang rampai memiliki makna sebagai lambang/nyasa kebijaksanaan. Dari kata kembang rampai memiliki dua arti, yaitu: kembang berarti bunga dan rampai berarti macam-macam, sesuai dengan arah pengider-ideran kembang rampai di taruh di tengah sebagai simbol warna brumbun, karena terdiri dari bermacam-macam bunga. Dari sekian macam bunga, tidak semua memiliki bau yang harum, ada juga bunga yang tidak memiliki bau, begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, tidak selamanya kita akan dapat menikmati kesenangan adakalanya juga kita akan tertimpa oleh kesusahan, kita tidak akan pernah dapat terhindar dari dua dimensi kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehiupan ini hendaknya kita memiliki kebijaksanaan.

8.Lepa.
Lepa atau boreh miyik adalah sebagai lambang/nyasa sebagai sikap dan prilaku yang baik.
Boreh miyik/lulur yang harum, lalau seseorang memaki lulur, pasti akan dioleskan pada kulitnya, jadi lulur sifat di luar yang dapat disaksikan oleh setiap orang. Yang dapat dilihat ataupun disaksikan oleh orang lain adalah prilaku kita, karena prilakunyalah seseorang akan disebut baik ataupun buruk, seseorang akan dikatakan baik apabila dia selalu berbuat baik, begitu juga sebaliknya seseorang akan dikatakan buruk kalau di selalu berbuat hal-hal yang tidak baik. Boreh miyik sebagai lambang/nyasa perbuatan yang baik.

9.Minyak wangi.
Minyak wangi/miyik-miyikan sebagai lambang/nyasa ketenangan jiwa atau pengendalian diri, minyak wangi biasanya diisi pada sebuah canang. Sebagai lambang/nyasa di dalam kita menata hidup dan kehidupan ini hendaknya dapat dijalankan dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik, saya umpamakan seperti air yang tenang, di dalam air yang kita akan dapat melihat jauh ke dalam air, sekecil apapun benda yang ada dalam air dengan gampang kita dapat melihatnya. Begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang mantap kita akan dapat menyelesaikan segala beban hidup ini.

Canang adalah pada dasarnya sebagai wujud dari perwakilan kita untuk menghadap kepada-Nya.
Kalau kita dapat meresapi dan menghayati serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang terkandung dalam makna Canang sari di atas, pasti bhakti kita akan diterima olehNya dan kita dapat mengarungi kehidupan ini dengan damai sejahtera sekala niskala.

 Karena suatu ajaran Agama tidak hanya cukup untuk diresapi ataupun dihayati saja, melainkan harus dipraktekan dalam kehidupan nyata sehari-hari di dalam masyarakat.